Melangkah tegap di tengah Kesepian
MengawaLi sebuaH haRi denGan Senyuman
Berhati bagaikan perisai baja
Berjiwa tajam Layaknya sebilah pedanG
Membasmi segaLa keburukaN
Dengan ayunan jiwa mU
Menahan segala nafsU
Dengan periSai haTi yang sucI
Mengendalikan raga ini,selayaknya untuk kebajikaN
Menunggang kuDa baTin,menerjang sgala kelicikaN
Wahai para remaja yang bersahajA
Bermodal SeManGaTH ksatriA
Bangkitkan kekuatanmU,
Banggakan orang tua mU,
Hargai sahabatmU,
Pujilah TuhanmU,
Lindungilah sgala yang kau CiNtA
Berkorban demi orang laiN
Tanpa mengaharap balas budI
Buktikan pada duniA
Bahwa dirimu adalah...
Seorang KsaTriA
Puisi:jiwa yang tertuang dalam tulisan. Sekian banyak perasaan, sekian banyak impian, dan sekian banyak luapan kata bagi kehidupan.
Karena itu, puisi adalah lagu bagi jiwa.
Dan kami mengajak anda, untuk mulai berjalan,
dalam perjalanan bait-bait kata yang tiada henti;
seperti hidup yang terus mengalir dan berputar.
Kamis, 19 Februari 2009
Para Pengembara
Bersama angin, kaki mereka melangkah
Terus melaju, melewati gunung tertinggi dan lembah terdalam
Tanpa lelah, tanpa takut
Wahai, pengembara, apa yang engkau cari?
Mereka terus berjalan, tanpa ada rumah untuk pulang,
Atau kampung halaman untuk dikenang.
Tanpa istirahat, terus mengejar matahari.
Wahai, pengembara, apa yang engkau cari?
Pengembara tak pernah berhenti. Mencari, dan terus mencari.
Bukankah hati kita dulunya adalah pengembara juga?
Mencari makna hidup ini, di balik tiap bebatuan dan pucuk hijau dedaunan
Melewati pelangi, awan dan Bima Sakti.
Pengembara, apa yang kau cari?
Dan aku telah memutuskan: akan kumulai pencarianku.
Akan kucari suatu tempat untuk pulang,
melalui pengembaraanku, atau sampai pengembaraan menjadi rumahku.
<09/02/09>
Terus melaju, melewati gunung tertinggi dan lembah terdalam
Tanpa lelah, tanpa takut
Wahai, pengembara, apa yang engkau cari?
Mereka terus berjalan, tanpa ada rumah untuk pulang,
Atau kampung halaman untuk dikenang.
Tanpa istirahat, terus mengejar matahari.
Wahai, pengembara, apa yang engkau cari?
Pengembara tak pernah berhenti. Mencari, dan terus mencari.
Bukankah hati kita dulunya adalah pengembara juga?
Mencari makna hidup ini, di balik tiap bebatuan dan pucuk hijau dedaunan
Melewati pelangi, awan dan Bima Sakti.
Pengembara, apa yang kau cari?
Dan aku telah memutuskan: akan kumulai pencarianku.
Akan kucari suatu tempat untuk pulang,
melalui pengembaraanku, atau sampai pengembaraan menjadi rumahku.
<09/02/09>
Langganan:
Postingan (Atom)