Selasa, 13 Oktober 2009

Hujan

Menanti hujan turun,

[12-08-08]


Katamu: ‘ Di sini hujan.’
Aku menengadah ke langit, yang bersih tanpa setitik awan.
Serumu: ‘ Bukan di situ. Di sini. ‘
Dan kau menunjuk ke dadamu
Pintamu: ‘Tolong, redakan hujannya. Atau berikan payung ’
Hujan di hatimu, kini mulai mengembun di matamu
Matamu tak lagi bersinar, kabut menutupinya dan
Dengan sembab, hujan itu kini mengalir
Jadi sungai di lembah-lembah pipimu

Maaf, aku tak bisa memanggil senyuman mentari
Dan tak ada payung yang bisa masuk dalam hatimu

Tapi aku bisa menjagamu. Walau hujan menderas
Jadi sungai, dan sungai
Jadi meluap dan membanjir
Dan banjir menghanyutkanmu dalam
Jurang-jurang dalam kepedihan dan kepahitan.

Kau tak akan hanyut, tak akan hilang dalam putus asa
Karena aku akan menegakkanmu dan menahanmu
Dan mencarimu, tiap kali kau hilang dan terjatuh

Isakmu: ‘Aku tak bisa menahan tangis’.
Tak apa. Menangislah jika kau ingin. Dan setelah itu,
tersenyumlah kembali, bagai mentari sehabis hujan.

Dan bukankah pelangi baru ada setelah hujan turun?

Selasa, 25 Agustus 2009

Ode untuk kopi

Akhirnya, setelah sekian lama... bisa posting juga. hahhahah...
buat para penikmat kopi, selamat menikmati 12 cangkir suguhan ini...

Kopi (1)
-- pagi yang berkabut,dan dua cangkir kopi dingin (tak ada air panas lagi di termos, kita menghabiskannya di gelas-gelas sebelumnya) --
Aku masih mengenang kopi pertama yang kita minum.
Hari itu dingin bukan? Dan kita lalu mencari perlindungan dalam kehangatan kopi.
Aku masih mengenang segelas kopi kita yang pertama.
Kopinya memang dingin,
Tapi
kehangatannya
turun
sampai
ke
hati.
[18-08-08]


Kopi (2)
--karena kopi, lebih dari sekedar minuman--
Tiap-tiap butir yang kau tuang
adalah tanda kasih sayang para petani
Yang membagikannya dalam tiap pekerjaan tangan mereka
Ketika kau satukan dengan kehangatan air, lambang kehidupan
Berkat-berkat yang ada di dalamnya tumbuh, naik membawa harum tanah pegunungan dalam desiran
angin kemarau ; keharuman yang menyegarkan kepala,
dan membakar hati dalam kehangatan sinar mentari.
Inilah segelas kopi:
Minumlah dengan penuh ucapan syukur.
Karena yang kau dapatkan,
jauh lebih dari sekedar segelas kopi.



Kopi (3)
-- mensyukuri secangkir kopi malam ini --
Secangkir kopi lebih dari sekedar segenggam
bubuk halus yang kau seduh untuk mengundur
berakhirnya malam,
Para petani menanamnya dalam senyuman mentari:
benih-benih kecil yang tumbuh dalam kehangatan dan kash sayang.
Mereka menyerap kesegaran pagi dalam tiap percik embun:
kesegaran yang nantinya mereka bagikan dalam tiap gelas kopi
Bumi memberkatinya dengan kelimpahan, dan angin mengajarinya senandung kehidupan
Dan terus memperkaya diri, mereka terus tumbuh dan hidup
hingga berbuah matang dalam segala berkat dan kelimpahan
Kita mengambilnya, dan membakar mereka
dalam semangat dan lidah api membara
Membuatnya merekah, memberikan keharuman
yang disimpannya dalam hari-hari penuh kehangatan.
Dan akhirnya, dimurnikan dalam api, air, dan angin
Sampailah ia ke cangkirmu:
dan kau pun tahu, ia bukan sekedar kopi;
namun sekujur bumi yang memberkahimu dalam kehangatan mentari.



Kopi (4)
--kedinginan di malam pekat ini, sendirian dengan segelas kopi--
Kegelapan pekat malam
turun dalam
kehangatan yang
menyegarkan
dari
segelas kopi
dan dari sana, kita
meminjam
detik
demi
detik
dari malam yang tak
ingin lewat
dan hati
yang tak ingin pergi
darimu



Kopi (5)
-- bagi kawan-kawan tempatku berbagi kopi--
Kopi ini kuseduh, dan kuingat engkau, kawan
:
persahabatan kita yang hangat, kental
seperti segelas kopi ini
harum dan menyenangkan,
tiap saat yang kita bagi bersama
dalam secangkir kopi
terimakasih kawan, lebih dari
segelas kopi ini, engkaulah yang membuatku
tetap terjaga,
dan tetap berdiri, sampai akhir
bahkan ketika
cangkir-cangkir terakhir telah
kehilangan aromanya.


Kopi (6)

--berguru pada secangkir kopi—
Hidup kadang seperti secangkir kopi
yang disuguhkan.
Pahit! karena hidup pun demikian
mengaduknya dengan berbagai cara pun, kadang
tak mengubah rasanya:
tak selalu ada gula belum terlarut dalamnya; walau kita kira ada.
kadang, kopi pahit memang harus kita telan.
Hidup kadang juga harus dihadapi
seperti kita meminum secangkir kopi;
pahitnya tak boleh membuat kita undur,
memang ada malam yang harus dilewati tanpa tertidur.
dan tak usah mencari kepingan gula yang terkubur,
karena kadang, secangkir penuh kopi pahit
jauh lebih manjur daripada
kopi manis yang tak juga kunjung bergula.


Kopi (7)
-- kala membuat 2 cangkir kopi kental di pagi hari --
Bagaimana membuat kopi?
Tidak, tak pernah kita bisa membuat kopi.
Kita bisa memanaskan air,
kita bisa menuangkan bubuk kopi, gula, krimer,
dan mengaduknya dalam secangkir wewangian.
Tapi tak akan ada kopi,
bila Tuhan tidak pernah membuat kopi
atau menumbuhkannya di perkebunan kita.
Kopi itu anugerah,
dan sama seperti hidup,
tak ada yang bisa membuatnya.


Kopi (8)
--sejenak sebelum meminum kopi--
hangat,
kental,
harum,
pahit,
juga manis,
nikmat,
akrab,
lekat,
unik,
bersemangat,
tak terlupakan.
bukankah kopi ini
ingatkanku akan
dirimu,
sahabat?

Kopi (9)

--mengisi secangkir kopi--
tolong,isi cangkir kopiku?
langit:
awan tak bisa
terukir di gelas kosong
hutan:
hujan tak bisa
menari di gelas kosong
laut:
gelombang tak
bergelora di gelas kosong
gunung:
kabut tak
turun di gelas kosong
kosong, kosong!
kosong melompong!
tak ada yang mau mengisi
gelas yang kosong
tolong, tolong! cangkirku kosong!


Kopi (10)
--ketika kopi tak lagi cukup--
jangan cuma isi cangkirmu
dengan kopi. ia pahit.
atau
dengan air. ia hambar.
atau
dengan gula. manis tak akan cukup.
tapi
isi cangkir hatimu
dengan cinta;
dan kopimu akan tetap nikmat,
bahkan hingga cangkir-cangkir berikutnya.

Kopi (11)
--kisah tentang kopi --
secangkir kopi
telah menyatukan
banyak hati
yang merindukan
kehangatan.
tapi, kehangatan
tidak pernah
datang dari
secangkir kopi
kehangatan
datang dari kenangan
akan teman
yang saling berbagi
dalam segelas kopi.


Kopi (12)
--ketika tak ada kata tersisa dalam segelas kopi --
Seteko
kopi akan habis dengan cepat.
Segelas
kopi akan hilang bersama embun.
Tapi,
persahabatan yang kita
abadikan bersama
dalam secangkir kopi ini
akan abadi
bahkan ketika
kita tak lagi mampu menyeduh
cangkir-cangkir kopi terakhir.
Bukankah begitu, kawan?

Minggu, 02 Agustus 2009

lihatlah

bulan tersenyum menampilkan sederet gigi putihnya
di dalam pelukan selimut malam
dingin...
perasaan hati perasaan jiwa
melihatnya,
bayang-bayang kelabu terkadang melintas
merayap diam tak tampak
sepinya...
pohon terdiam angin membeku
melihatnya,
hitam.. bukan gelap
pandangi bayang senyumannya
tanpa tahu engkau dimana?
atau sedang apa?
apa yang engkau lakukan?
aku ga tahu..
hanya mengira bahwa kamu disana
di depan korneaku, di dalam retinaku
masuki otakku untuk melihat
ilusi senyumanmu..

lihatlah,
aku melihatmu dari tempatku melamun ini

Kamis, 19 Februari 2009

BayangaN KsatriA

Melangkah tegap di tengah Kesepian
MengawaLi sebuaH haRi denGan Senyuman
Berhati bagaikan perisai baja
Berjiwa tajam Layaknya sebilah pedanG
Membasmi segaLa keburukaN
Dengan ayunan jiwa mU
Menahan segala nafsU
Dengan periSai haTi yang sucI
Mengendalikan raga ini,selayaknya untuk kebajikaN
Menunggang kuDa baTin,menerjang sgala kelicikaN

Wahai para remaja yang bersahajA
Bermodal SeManGaTH ksatriA
Bangkitkan kekuatanmU,
Banggakan orang tua mU,
Hargai sahabatmU,
Pujilah TuhanmU,
Lindungilah sgala yang kau CiNtA
Berkorban demi orang laiN
Tanpa mengaharap balas budI
Buktikan pada duniA
Bahwa dirimu adalah...
Seorang KsaTriA


Para Pengembara

Bersama angin, kaki mereka melangkah
Terus melaju, melewati gunung tertinggi dan lembah terdalam
Tanpa lelah, tanpa takut
Wahai, pengembara, apa yang engkau cari?

Mereka terus berjalan, tanpa ada rumah untuk pulang,
Atau kampung halaman untuk dikenang.
Tanpa istirahat, terus mengejar matahari.
Wahai, pengembara, apa yang engkau cari?

Pengembara tak pernah berhenti. Mencari, dan terus mencari.
Bukankah hati kita dulunya adalah pengembara juga?
Mencari makna hidup ini, di balik tiap bebatuan dan pucuk hijau dedaunan
Melewati pelangi, awan dan Bima Sakti.

Pengembara, apa yang kau cari?
Dan aku telah memutuskan: akan kumulai pencarianku.

Akan kucari suatu tempat untuk pulang,
melalui pengembaraanku, atau sampai pengembaraan menjadi rumahku.

<09/02/09>