Menanti hujan turun,
[12-08-08]
Katamu: ‘ Di sini hujan.’
Aku menengadah ke langit, yang bersih tanpa setitik awan.
Serumu: ‘ Bukan di situ. Di sini. ‘
Dan kau menunjuk ke dadamu
Pintamu: ‘Tolong, redakan hujannya. Atau berikan payung ’
Hujan di hatimu, kini mulai mengembun di matamu
Matamu tak lagi bersinar, kabut menutupinya dan
Dengan sembab, hujan itu kini mengalir
Jadi sungai di lembah-lembah pipimu
Maaf, aku tak bisa memanggil senyuman mentari
Dan tak ada payung yang bisa masuk dalam hatimu
Tapi aku bisa menjagamu. Walau hujan menderas
Jadi sungai, dan sungai
Jadi meluap dan membanjir
Dan banjir menghanyutkanmu dalam
Jurang-jurang dalam kepedihan dan kepahitan.
Kau tak akan hanyut, tak akan hilang dalam putus asa
Karena aku akan menegakkanmu dan menahanmu
Dan mencarimu, tiap kali kau hilang dan terjatuh
Isakmu: ‘Aku tak bisa menahan tangis’.
Tak apa. Menangislah jika kau ingin. Dan setelah itu,
tersenyumlah kembali, bagai mentari sehabis hujan.
Dan bukankah pelangi baru ada setelah hujan turun?